Laman

Jumat, 22 Oktober 2010

Bikin Penetasan Telur


Penetasan dan menetaskan telur ayam, bebek atau burung puyuh menjadi popular di tingkat peternak kecil dan menengah dan bahkan di tingkat rumah tangga untuk dijadikan jenis petelur atau pedaging atau untuk menghasilkan unggas unggas yang cantik cantik untuk dipelihara sebagai binatang piaraan.
Akan tetapi, para peternak sampai saat ini masih menggantungkan untuk mendapatkan DOC yang ber-kualitas dari hasil persilangan telur telur galur unggul dan murni dari breeder (perusahaan penetasan telur) besar.
Secara teknis, dasar penetasan telur dan mendapatkan telur dari persilangan galur murni adalah tetap sama, baik untuk breeder besar dengan mesin modern yang full-otomatic ataupun dengan menggunakan mesin sederhana di tingkat hobbiest yang diletakkan di dapur rumah sekalipun. Yang membedakan tinggal hanyalah kualitas DOC yang dihasilkan dan pemenuhan kebutuhan DOC yang diperlukan.
Selanjutnya melalui tulisan ini, kami ingin memperkenalkan kepada para “penetas telur” pemula tentang tata cara menetaskan telur menggunakan incubator dan mengoperasikan peralatan tersebut dengan benar untuk menetaskan ayam (atau jenis unggas lainnya). Yang membedakan dalam penetasan jenis jenis unggas adalah lama waktu penetasan dan prosedurnya. 
Pemilihan Bibit Yang Baik.
Untuk mendapatkan telur telur yang bagus untuk di tetaskan harus di yakini bahwa telut telur tersebut berasal dari induk induk ayam yang memenuhi syarat sebagai induk yang baik seperti:
  1. Telah di Vaksinasi secara lengkap
  2. Sehat
  3. Mempunyai postur dan bentuk badan yang baik
  4. Berasal dari galur murni
Pemilihan induk untuk menghasilkan telur tetas tersebut juga harus dijaga kualitas pakan dan pemberian vitamin yang cukup dan mereka disatukan dengan pejantan unggul yang telah diseleksi dengan ketat dan hanya yang berpostus baik serta jumlah yang sesuai dengan perbandingan induk betina yang ada, sangat disarankan agar mendapatkan telur telur fertile (dibuahi sempurna) dengan rasio yang tinggi.
Hal ini penting agar tidak menjadi sia sia bahwa setelah beberapa saat (katakan 5 hari) setelah dimasukkan ke dalam incubator ternyata banyak yang kosong (tidak dibuahi), maka hal ini akan menjadi kerugian dan buang waktu percuma.
Besar telur dan jumlah telur hasil persilangan / perkawinan tersebut haruslah mempunyai bentuk dan ukuran serta jumlah yang hampir sama agar didapatkan DOC (anak ayam) yang berukuran sama, sehat dan kuat.
Disamping itu, juga disarankan untuk memisahkan atau “membuang” anak ayam yang cacat, kecil atau kelihatan lemah dari sejak awal mereka menetas agar tetap dapat dipertahankan kualitas anak anak ayam yang dipelihara.
Pemilihan ini memeng memerlukan sedikit ketrampilan dan latihan untuk menentukan dan men seleksi anak ayam yang memenuhi criteria yang diharapkan. Sehingga di kemudian hari, bila mereka akan dijadikan induk, mereka dapat dikatakan bagus dan telah lewat seleksi sejak dini.
Seorang peternak yang cakap haruslah tidak memiliki ayam dengan kriteria berikut:
  1. Paruh yang bengkok
  2. Sayap yang terlipat, miring, turun
  3. Kebutaan pada salah satu matanya
  4. Kaki yang bengkok atau kecil dan jari jari kaki yang melengkung
  5. Atau cacat lainnya yang menyebabkan kesulitan dalam makan, minum atau kawin
Sedangkan syarat yang harus dipenuhi adalah :
  1. Ayam jantan harus agresif
  2. Tegap dan ber perawakan tinggi
  3. Suara yang nyaring, kaki dan jari jari yang lurus sempurna
  4. Sedangkan untuk  betinanya harus bertelur banyak, bentuk telurnya bagus dan sehat
Selanjutnya untuk di kawinkan maka ada 4 cara yang bisa dipakai yaitu (1) kawin masal  (2) kawin dalam kandang kandang kawin  (3) kawin yang di pacokkan dan  (4) inseminasi buatan.
GloryFarm dalam mendapatkan telur tetas yang unggul menggunakan 2 cara pertama yaitu kawin masal dan kawin dalam kandang kandang kawin. Hal ini dilakukan karena lebih mudah dalam pengaturannya dan lebih sedikit campur tangan manusia dan lebih alami. Cara lain seperti inseminasi buatan memerlukan keahlian dan pengetahuan yang lebih untuk melakukannya.
(1) Kawin Masal berarti mengawinkan beberapa ayam betina dengan beberapa jantan dalam satu kandang yang cukup luas. Cara ini efektif dipergunakan untuk mendapatkan telur tetas dengan tingkat fertilitas yang tinggi. Sebagai perbandingan, 1 ayam pejantan untuk 6 betina sehingga bila dalam 1 kandang  ditempatkan 4 ayam jantan maka betinanya dapat diberikan sebanyak 24 ekor.
Dalam beberapa buku, memang dikatakan ayam arab adalah dari jenis yang jago kawin sehingga disebutkan 1 ekor jantan sanggup mengawini 8 – 10 ekor betina. Dalam hal ini, kami tetap memakai perbandingan yang “aman” dengan tingkat fertilitas tinggi sehingga diberikan hanya 6 ekor betina untuk 1 ekor ayam jantan dengan hasil baik.
(2) Kawin dalam kandang kawinan berarti memberikan hanya 1 ekor ayam jantan dan beberapa ekor betina untuk setiap kandangnya. Biasanya 1 ekor jantan dan 5 ekor betina. Hal ini dimaksudkan agar lebih mudah mengawasi tingkat fertilitas atau kemampuan kawin seekor pejantan. Tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan suatu persilangan yang direncanakan untuk kepentingan pengembangan atau seleksi khusus.
(3) Kawin yang dipacokkan berarti ayam jantan diletakkan dalam satu kandang khusus, selanjutnya betina yang akan di kawinkan dimasukkan dalam kandang pejantan. Bila pejantan telah mengawini maka sang betina dikeluarkan kembali. Hal ini juga kami lakukan terhadap ayam Bangkok sebab bila dipakai cara ke (2) diatas maka telur yang dihasilkan selalu di makan kembali oleh ayam-ayam tersebut. Sehingga, bila betina Bangkok telah dikawin oleh pejantannya, maka betina tersebut dikembalikan ke kandang batere agar bila bertelur akan aman dari dimakan kembali oleh mereka.
(4) Inseminasi Buatan adalah cara yang biasa dipakai untuk mengawinkan ayam ayam dengan beda umur yang cukup jauh, atau untuk mendapatkan persilangan tertentu karena dalam keadaan normal mereka tidak saling / susah untuk kawin seperti misalkan mengawinkan ayam kate dengan ayam Bangkok. Metode ini tidak atau jarang digunakan karena tidak praktis dan memerlukan peralatan dan keahlian serta pengetahuan khusus.
Di dalam mendapatkan telor tetas, seorang peternak ayam harus juga melengkapi kandang kandang nya dengan sangkar untuk bertelur atau setidaknya bila menggunakan kandang postal maka kandang tersebut harus selalu menggunakan sekam yang cukup ketebalannya dan kebersihannya. Hal ini dimaksudkan agar telur tetas yang dihasilkan akan terjaga kebersihannya dari tanah, kotoran ayam atau malah bibit penyakit menular lainnya. Hal ini kembali kami tekankan untuk selalu menjaga sanitasi kandang yang baik, program vaksinasi dan penyemprotan dengan bahan pembasmi kuman dan bibit penyakit untuk menekan tingkat penyakit yang mungkin ada dan terbawa di kulit telur tetas.
Pemberian vitamin dalam air minum yang bersih dan diganti setidaknya 2 kali sehari, makanan dengan komposisi yang seimbang dalam nutrisi dan jumlahnya juga membantu dalam mendapatkan telur tetas yang ber kualitas.
Dalam mengumpulkan telur tetas biasanya peternak mengambilnya sekali setiap hari. Tetapi dalam kasus telur telur tersebut akan ditetaskan untuk menghasilkan anak ayam yang ber kualitas, maka pengambilan telur dapat dilakukan lebih sering. Memang disarankan untuk mengambilnya antara 4 sampai 5 kali sehari. Tapi kami melakukan mengumpulan telur sebanyak 3 kali dalam sehari dan ini kami rasa cukup. Mengingat bila terlalu sering masuk keluar kandang juga dapat menyebabkan ayam ayam tersebut menjadi terganggu / stress.
Pengambilan telur juga dimaksudkan agar telur telur yang didapat lebih bersih dari kotoran ayam dan juga tentunya bibit penyakit yang ada di kandang. Telur telur yang agak kotor sebaiknya di bersihkan dengan lap / kain halus sebisa mungkin tetapi tidak menggunakan air. Bila menggunakan air sekalipun maka disarankan untuk menggunakan sedikit air hangat bersih dan tidak dengan menekan kulit telur. Tetapi hal ini tetap dikawatirkan akan merusak selaput pertahanan alami kulit telur dari bibit penyakit. Karena kuman, bakteri, virus atau bibit penyakit yang mempunyai ukuran sangat kecil itu dapat menembus lapisan berpori pada dinding kulit telur.
Juga tidak disarankan untuk mencampur telur yang kotor tadi dengan telur telur yang bersih agar tidak ada perpindahan bibit penyakit. Terutama bila akan dimasukkan dalam incubator yang sama. Karena kekawatiran yang sama seperti diatas.
Tetaskan telur telur dengan ukuran yang seukuran. Telur telur yang mempunyai ukuran raksasa atau lebih besar dari lainnya atau malah terlalu kecil sebaiknya tidak ikut ditetaskan. Juga tidak di sarankan untuk menetaskan telur telur yang cacat atau abnormal seperti, telur yang mempunyai permukaan kasar sekali, tipis kulitnya, aneh bentuknya atau bentuk bentuk abnormal lainnya. Biasanya telur telur seperti ini tidak akan menetas pada akhirnya atau kalaupun menetas biasanya anak ayam yang ada akan lemah.
Singkirkan juga telur telur yang retak karena kalaupun telur tersebut fertile maka dalam perkembangan nya telur tersebut dapat “meledak” atau bocor dan mengotori telur telur lainnya. Juga karena retakan yang ada maka penguapan yang terjadi tidak berjalan semestinya dan pada akhirnya juga embrio yang ada di dalamnya akan mati. Demikian juga dengan telur telur yang ada udara di dalamnya haruslah juga tidak ikut di tetaskan dalam mesin incubator.
Sanitasi atau pembersihan terhadap telur dan peralatan penetasan dapat menggunakan sistim fumigasi. Fumigasi dengan tingkat yang rendah tidak akan membunuh bakteri dan bibit penyakit tetapi fumigasi yang terlalu tinggi dapat mebunuh embrio didalam telur. Maka amatlah di haruskan untuk memakai ukuran yang tepat terhadap bahan kimia yang akan digunakan dalam melakukan fumigasi.
 Dalam melakukan fumigasi, sebuah ruangan yang cukup atau lemari yang besar diperlukan untuk menampung semua telur telur yang akan di tetaskan dan ruangan atau tempat tersebut juga dilengkapi dengan kipas angin untuk sirkulasi udara didalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar